MAKHLUK YANG LEBIH HINA DARI DIRIMU

Arnaim.com | MAKHLUK YANG LEBIH HINA DARI DIRIMU - Pada kesempatan kali ini admin ingin beragi kisah  sebagai bahan renungan untuk diri sendiri dan bagi pembaca, agar bisa menjadi intropeksi diri supaya kita bisa menjadi pribadi yang lebih baik. Yuk simak sedikit kisah tentang Seorang Santri yang ditugaskan oleh Kyainya untuk mencari Makhluk yang lebih hina dari dirinya. Baca sampai habis ya, biar gak gagal fokus. Berikut kisahnya...
ARNAIM.COM - MAKHLUK YANG LEBIH HINA DARI DIRIMU
www.arnaim.com

MAKHLUK YANG LEBIH HINA DARI DIRIMU

Di suatu pondok pesantren, ada seseorang santri yang tengah menuntut ilmu pada seseorang Kyai. Telah bertahun- tahun lamanya sang santri belajar. Sampai tibalah dikala dimana ia hendak diperbolehkan kembali buat mengabdi kepada masyarakat. Saat sebelum si Santri tersebut kembali, Kyai memberinya satu tes buat meyakinkan kalau si Santri betul- betul telah matang ilmunya serta siap mengalami kehidupan diluar Pesantren.

Pak Kyai setelah itu mengatakan pada santri. 
Saat sebelum kalian kembali, dalam 3 hari ini, saya mau memohon kalian mencarikan seseorang maupun makhluk yang lebih hina serta kurang baik dari kalian,“ ucap si Kyai.

“ 3 hari itu sangat lama Kyai, hari ini saya dapat menciptakan banyak orang ataupun makhluk yang lebih hina daripada aku,” 
jawab Santri dengan PD.

Si Kyai tersenyum seraya mempersilakan muridnya bawa seseorang maupun makhluk hina itu kehadapannya.

Santri keluar dari ruangan Kyai dengan semangat,
” hem, tes yang sangat mudah kalau hanya mencari makhluk hina!

Hari itu pula, Si Santri berjalan menyusuri jalanan mengelilingi kota. Di tengah jalur, ia bertemu seseorang pemabuk berat. Bagi orang pemilik warung yang dijumpainya, orang tersebut senantiasa mabuk- mabukan tiap hari. Dlam benak sang Santri sedikit tenang, dalam hatinya ia mengatakan,
“ähay.. tentu ia orang yang lebih hina dariku, tiap hari ia habiskan cuma buat mabuk- mabukan, sedangkan saya senantiasa giat beribadah.”

Dalam ekspedisi kembali Si santri kembali berpikir,
 "kayaknya si pemabuk itu belum pasti lebih hina dari saya, saat ini ia mabuk- mabukan tetapi siapa yang tau nantinya di akhir hayatnya Allah malah mendatangkan anugerah sampai ia dapat khusnul Khotimah, sebaliknya saya yang saat ini giat ibadah, jika diakhir hayatku, Allah malah menghendaki Suúl Khotimah, gimana?“ Huuh… berarti pemabuk itu belum pasti lebih hina dari saya,
 ucapnya bingung.

Si Santri setelah itu kembali melanjutkan perjalanannya mencari orang ataupun makhluk yang lebih hina darinya. Di tengah ekspedisi, ia melihat seekor anjing yang menjijikkan sebab tidak hanya bulunya kusut serta bau, anjing tersebut pula mengidap kudisan.

“ Kesimpulannya ketemu pula makhluk yang lebih hina dari saya, anjing tidak cuma haram, tetapi pula kudisan serta menjijikkan,” 

teriak santri dengan girang.

Dengan memakai karung beras, sang Santri membungkus anjing tersebut hendak dibawa ke Pesantren, Tetapi ditengah jalur, seketika ia kembali berpikir, 
 anjing ini memanglah kurang baik rupa serta kudisan, tetapi benarkah ia lebih hina dari saya?” Oh tidak, jika anjing ini mati, otomatis ia tidak dimintai pertanggungjawaban atas apa yang dikerjakannya di dunia, sebaliknya saya wajib mempertanggungjawabkan seluruh perbuatan sepanjang di dunia serta bisa aja saya malah masuk ke neraka
Kesimpulannya si santri menyadari kalau dirinya belum pasti lebih baik dari anjing tersebut.

Hari terus menjadi sore, si Santri masih berupaya kembali mencari orang ataupun makluk yang lebih hina darinya. Tetapi sampai malam datang, ia tidak jua mendapatkan makhlukn yang lebih hina. Lama sekali ia berpikir, sampai kesimpulannya ia memutuskan buat kembali ke Pesantren serta menemui si Kyai.
“ Gimana Anakku, apakah kalian telah mendapatkanya?” 
tanya si Kyai.

“ Udah, Kyai,” jawabnya seraya tertunduk.“ Nyatanya diantara orang ataupun makluk yang bagi saya lebih hina, saya tetap paling hina dari mereka,” ucapnya lama- lama.

Mendengar jawaban si Murid, kyai tersenyum lega,
” alhamdulillah.. kalian dinyatakan lulus dari pondok pesantren ini, anakku,” ucap Kyai terharu.
Setelah itu Kyai mengatakan:
Sepanjang kita hidup di Dunia, jangan sampailah kita berlagak sombong serta merasa lebih baik ataupun mulia dari orang maupun makhluk lain. Kita tidak akan mengetahui, gimana akhir hidup yang akan kita alami. Mungkin saat ini kita baik serta mulia, tetapi diakhir hayat malah jadi makhluk yang seburuk- buruknya. Bisa juga saat ini kita beriman, tetapi di akhir hayat, setan sukses memalingkan wajah kita sampai melupakan Allah Subhanahu Wa Ta'alaa."

Selamat menunaikan ibadah puasa, dan semoga disisa umur yang mana maut kian semakin mendekat, yuk kita perbanyak amal sholeh dan jangan pernah merasa lebih baik dari siapapun. Karena manusia  yang paling buruk adalah manusia yang merasa sudah baik, merasa lebih baik, atau merasa paling baik. Semoga Allah Subhanahu Wataala mengampuni dosa-dosa kita dan menerima amal ibadah kita. Aamiin