Siap Dihina & Dipuji

Sahabatku,,,
Waktu terus berputar dan beragam peristiwa ikut mengiringi derap langkah kita di dunia tempat ujian ini. Adalah suatu kenyataan bahwa problematika hidup bermasyarakat sangatlah kompleks. Yang demikian itu karena masyarakat berikut seluruh lapisannya memiliki karakter dan kepribadian yang tidak sama.

Demikian pula tingkat pemahaman tentang agama dan kesiapan untuk menjalankannya dalam kehidupan sehari-hari pun sangat beragam. Oleh sebab itu, masing-masing individu hendaknya memiliki kesiapan jiwa yang bisa menjadi bekal menghadapi keadaan apapun dengan tepat. Di antaranya adalah sikap tabah dan lapang dada yang didukung oleh ilmu syariat.

Bisa dikatakan, secara umum orang itu siap untuk dipuji dan diberi, namun sangat berat jika dicela, dihina, dinodai dan dicaci.

Di sinilah ujian, apakah seseorang mampu menguasai dirinya saat pribadinya disinggung dan haknya ditelikung.

Pujian memang bisa memotivasi kita untuk meraih sebuah pencapaian baru atau prestasi yang lebih tinggi lagi. Tapi pada kenyataannya, pujian justru lebih sering membuat kita lupa diri. Semakin sering dipuji oleh orang lain, maka semakin besar kemungkinan kita untuk terlena dan menjadi tinggi hati.

Ketika dipuji, kebanyakan kita sangatlah siap bahkan merasa senang dan bangga dengan pujian orang kepada kita. Kita tidak sadar bahwa pujian itu juga bisa membahayakan diri kita.

Dari Abu Bakrah, ia menceritakan bahwa ada seorang pria yang disebutkan di hadapan Rasulullah Saw, lalu seorang hadirin memuji orang tersebut. Rasulullah Saw lalu bersabda,
“Celaka engkau, engkau telah memotong leher temanmu (berulang kali beliau mengucapkan perkataan itu). Jika salah seorang di antara kalian terpaksa/harus memuji, maka ucapkanlah, ”’Saya kira si fulan demikian kondisinya.” -Jika dia menganggapnya demikian-. Adapun yang mengetahui kondisi sebenarnya adalah Allah dan janganlah mensucikan seorang di hadapan Allah.” (HR Bukhari)

Abu Musa berkata, “Rasulullah Saw mendengar seorang pria berlebih-lebihan dalam memuji seorang.

Rasulullah Saw, lalu bersabda,
”Kalian telah membinasakan atau mematahkan punggung orang itu.” (HR Bukhari)

Rasulullah memberikan trik yang sangat baik untuk diteladani supaya kita tidak terjerat dengan jebakan pujian manusia.

Pertama, selalu mawas diri agar tidak terbuai oleh pujian orang lain. Oleh karena itu, setiap kali ada yang memuji beliau, Rasulullah menanggapinya dengan doa, “Ya Allah, janganlah Engkau hukum aku karena apa yang dikatakan oleh orang-orang itu,” (HR. Bukhari).

Kedua, menyadari sepenuh hati bahwa hakikat pujian adalah topeng dari sisi gelap kita yang tidak diketahui orang lain. Ketika ada yang memuji kita, itu tidak lebih karena ketidaktahuannya tentang sisi kejelekan kita. Oleh sebab itu, beliau SAW dalam menanggapi pujian, beliau berdoa, “Ya Allah ampunilah aku dari apa yang tidak mereka ketahui (dari diriku).” (HR. Bukhari)

Ketiga, kalaupun pujian yang dilontarkan orang lain terhadap diri kita memang benar ada di dalam diri kita, Nabi SAW mengajarkan kita agar memohon kepada Allah Swt untuk dijadikan pribadi yang lebih baik lagi. Apabila mendengar pujian, beliau SAW kemudian berdoa, “Ya Allah, jadikanlah aku lebih baik dari apa yang mereka kira.” (HR. Bukhari)

Adapun ketika cacian itu datang, maka kita juga harus siap menghadapinya dengan bijak. Jika kita mengetahui ilmunya, kita tidak akan panik. Justru kita akan bersikap tenang dan mendengarkan cacian tersebut, karena bisa jadi cacian itu adalah informasi untuk kita tentang diri kita supaya kita mau mengevaluasi dan memperbaiki diri.

Kita seringkali merasa terhina oleh ucapan orang lain tentang diri kita, padahal apa yang diucapkannya itu adalah sesuatu hal yang memang ada di dalam diri kita.

Cacian atau hinaan adalah episode bagaimana Allah SWT menguji kearifan diri kita. bahkan sangat mungkin, hinaan yang datang dari orang lain kepada kita itu adalah sarana dari Allah SWT supaya kita bisa memperbaiki kualitas diri kita.

Bahkan tidak jarang, hinaan itulah yang memperkokoh dan memperjelas kemuliaan seseorang yang dihina itu. Karena, banyak kejadian, apabila sikap orang yang hina itu tetap tenang dan mantap, orang-orang jadi bisa melihat dengan jelas siapakah dan bagaimanakah sebenarnya orang yang yang dihina dan yang menghina.

Hinaan itu tidak akan melekat pada diri orang yang dihina apabila dia bersikap arif dan bijaksana dalam menyikapi hinaan tersebut. Hinaan itu justru akan berbalik dan melekat kepada diri orang yang melontarkan hinaan itu.

Jika kita mengetahui ilmunya, maka kita akan bersikap tenang dan arif ketika diri kita dihina. Karena, kita menyadari bahwa orang yang paling mulia saja yaitu Muhammad SAW, mendapat hinaan dan cacian, apalagi kita yang kemuliaannya sangat jauh berada di bawah beliau. Jika benar kita menyikapi hinaan orang lain terhadap kita, maka hinaan itu justru akan mempertinggi derajat kita.

Demikian pula Rasulullah SAW telah menegaskan bahwa orang yang mampu menahan dirinya di saat marah dia sejatinya orang yang kuat.
Rasulullah saw bersabda:
“Orang yang kuat bukan yang banyak mengalahkan orang dengan kekuatannya. Orang yang kuat hanyalah yang mampu menahan dirinya di saat marah.” (HR. Al-Bukhari)

Semoga Allah SWT senantiasa memberikan kita hidayah-Nya, sehingga kita bisa menjadi seorang pribadi yang jauh lebih baik lagi. Pribadi yang baik ketika dipuji dan pribadi yang baik ketika di hina dan dicaci.

Semoga bermanfaat dan tetap semangat tuk menggapai kebahagiaan dunia sampai nanti di akhirat.